Globbal Mapper 10

January 9, 2009
The 3D View command in Global Mapper allows registered users to view gridded elevation data and any overlying raster or vector data in a true perspective 3D manner. When selected, the 3D View command displays a window containing a 3D view of the data in the current Global Mapper view. Any imagery or vector data being drawn on top of the elevation grid(s) in the main Global Mapper view will automatically be draped on top of the elevation data in the 3D View window.The image below depicts a sample of the 3D View window displayed using 250K USGS DEM data for Salt Lake City, UT overlaid with DOQ satellite imagery from the TerraServer import command under the File menu. The 3D View window contains a toolbar with command buttons allowing you to modify the default view. You can use the mouse to rotate the view around as well as zoom in. The arrow keys on the toolbar allow you to pan the data visible in the 3D view in any direction. The zoom in and out buttons allow you to zoom in or out on the center of the 3D view. Additional buttons are also available for modifying the vertical exaggeration, displaying water, and saving the 3D view contents to a Windows BMP, TIFF, PNG, or JPG file.

The contents of the 3D View window will always reflect what is visible in the main Global Mapper view. This means that as you pan and zoom around the main Global Mapper view, the contents of the 3D View window will pan and zoom around as well. The reverse is also true in that the pan and zoom buttons on the 3D View window will cause the main Global Mapper view to pan and zoom as well. Another example of the 3D view is displayed below. This time, it is several 24K USGS DLGs for Blue Springs, MO overlaid on several 24K USGS DEMs for the same area.

You can also save a measurement to a separate feature by right clicking and selecting “Save Measurement” from the list that pops up. You can then export these measurements to new vector files, such as Shapefiles or DXF, or modify them with the Digitizer Tool. There is also an option to copy the measurement text to the clipboard when you right-click. If you have gridded elevation data loaded under the measurement, you can also calculate the Cut-and-Fill volume either within the measurement area or within some distance of the measurement line. To do this,
simply right click then select the “Measure Volume (Cut-and-Fill)” option that appears. Selecting this option will display the Setup Volume Calculation Parameters dialog (pictured below), which allows you to set up thevolume measurement.

Pathloss With Global Mapper:

The PathProfile/LOS command selects the 3D path profile/LOS (line of sight) tool as the current tool. This tool allows you to get a vertical profile along a user-specified path using loaded elevation datasets. In addition, registered users can perform line of sight calculations along the defined path. To define the path along which to generate the 3D path profile, first select the path profile tool as your current tool. Press and release the left mouse button at the position where you wish to start the path. Move the mouseto the next position that you want to include in the path profile, then press the left mouse button again. Right click on the last location in the path profile to complete selecting points and display the Path Profile/Line of Sight dialog (pictured below). The Path Profile/Line of Sight dialog will appear displaying the 3D path profile of the selected path. Any points along the path that did not have elevation data underneath will be treated as an elevation of zero. You can also generate 3D path profiles for existing line features by selecting the line feature in the Digitizer Tool, right clicking, then selecting the Generate Path Profile From Line option on the menu that is displayed.

The Path Profile/Line of Sight dialog displays the 3D path profile and provides several options related to the profile. A vertical scale is displayed on the left hand side of the profile window. The start and end coordinates of the path are displayed at the top of the profile window. If more than two points are in the path, the intermediate points will be marked in the profile window with a yellow dot. These intermediate points can be toggled on and off using an option available by right clicking on the path profile window. Also note that this dialog is resizable. Right clicking on the profile window brings up an options menu allowing the user to change the start and end positions, select the units (meters or feet) to display the elevations in, configure display of the path profile, and display a dialog containing details about the path. These options are also available under the Options menu on the dialog. The File menu contains options allowing you to save the path profile/line of sight data to a file. The individual options are described below. The Save To Bitmap… option allows registered users to save the contents of the path profile window to aWindows bitmap (BMP) file for use in other applications.


Need This Software?? Contact US

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

CDMA dan Spreed Spectrum

December 30, 2008

Sistem yang multiple access (MA) adalah sistem yang dapat melayani banyak pelanggan (user) secara bersama-sama (simultan). Agar terjadi multiple access, maka harus tersedia kanal-kanal/saluran-saluran yang jumlahnya lebih dari satu. Jika pada saat yang sama terdapat 10 pelanggan yang ingin dilayani, maka diperlukan kanal sebanyak 10 buah pula.

Dengan sistem multiple access yang bagus, tidak akan terjadi antrean panjang dan macet. Secara umum, bisa saja sistem multiple access diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti sistem pembayaran di loket PLN, teller bank, dan sebagainya. Tapi pada kenyataannya, penerapan pada bidang telekomunikasilah yang banyak memunculkan multiple access baru.

Tren sistem telepon seluler mendongkrak pemakaian multiple access untuk sistem komunikasi bergerak (mobile communication system). Kemajuan yang dicapai oleh telepon seluler bahkan melebihi sistem komunikasi bergerak lain seperti telepon cordless (sekarang juga lagi musim), paging (yang dulu ngetop tahun 1970-1980-an), dan PCS (personal communication standard). Perkembangan telepon seluler yang kian menjadi-jadi dengan berbagai fasilitas ciamik yang andal (semacam MMS, mobile Internet, dan lain- lain), menyebabkan semakin getolnya pencarian-pencarian sistem multiple access baru yang lebih tanggap dan cepat dalam melayani banyak pelanggan.

Hingga saat ini dua teknik pendahulu yang masih digunakan adalah FDMA (frequency division multiple access) dan TDMA (time division multiple access). Pengguna teknik FDMA cukup banyak juga. Salah satunya adalah telepon seluler berbasis AMPS, yang di Indonesia dipakai pada awal munculnya telepon seluler. AMPS (advanced mobile phone system) adalah sistem seluler Amerika Serikat pertama (dan analog) yang dikembangkan oleh AT&T Bell Laboratories pada akhir tahun 1970-an.

Pemakai teknik TDMA pun juga cukup banyak. Salah satunya adalah telepon seluler berbasis GSM, yang sekarang lagi marak di Indonesia. GSM yang mulanya adalah singkatan dari groupe spe’cial mobile diganti menjadi global system for mobile communication untuk keperluan pemasaran yang lebih luas. Ia merupakan standar seluler digital generasi kedua yang dikembangkan oleh Eropa untuk menyatukan sistem selulernya. Bermula dengan dikenalkan pada pasar Eropa tahun 1991, kini GSM telah menjadi standar terpopuler di dunia untuk radio seluler baru dan peralatan komunikasi pribadi. Karena kepopuleran itulah, teknik TDMA ikut terdongkrak dan seolah “kagak ade matinye”.

Akan tetapi waktu terus berjalan, dan pesaing-pesaing baru selalu akan muncul untuk mengganti pemain lama. Salah satunya adalah teknik CDMA (code division multiple access). Dengan lebih banyak kelebihan (dan sedikit kekurangan), teknik yang diusung oleh US Narrowband SpreadSpectrum (IS-95) ini, mulai berkembang dan terus berkembang. GSM yang tidak tinggal diam, tentu akan berusaha mempertahankan takhtanya. Kita saksikan saja persaingan yang kian marak ini dan barangkali untuk beberapa dekade, kita sementara menjadi penonton saja.

FDMA

FDMA adalah sistem multiple access yang menempatkan seorang pelanggan pada sebuah kanal berbentuk pita frekuensi (frequency band) komunikasi. Jika satu pita frekuensi dianggap sebagai satu jalan, maka FDMA merupakan teknik “satu pelanggan, satu jalan”. Pada saat pelanggan A sedang menggunakan jalan itu, maka pelanggan lain tidak dapat menggunakan sebelum pelanggan A selesai.

Jadi, kalau dalam waktu yang bersamaan ada 100 pelanggan yang ingin berkomunikasi dengan rekannya, maka sudah tentu diperlukan 100 pita frekuensi. Kalau setiap pita memerlukan lebar 30 Kilo Hertz (kHz) dan frekuensi yang digunakan berawal dari 890 Mega Hertz (MHz), maka:

• Pita frekuensi kanal 1 mulai dari 890 MHz hingga 890,030 Mhz

• Pita frekuensi kanal 2 mulai dari 890,030 MHz hingga 890,060 MHz

• Pita frekuensi kanal 3 mulai dari 890,060 MHz hingga 890,090 MHz

• dan seterusnya.

Sedangkan lebar total seluruh pita yang digunakan adalah:

100 x 30.000 Hz = 3.000.000 Hz = 3 MHz.

Artinya, jika frekuensi yang digunakan mempunyai batas bawah 890 MHz, maka batas atasnya adalah 893 MHz.

Akan tetapi, frekuensi yang tersedia untuk komunikasi bergerak dibatasi oleh peraturan yang ada karena frekuensi-frekuensi lain pasti digunakan untuk jatah keperluan yang lain pula. Sementara jatah frekuensi yang ada pun harus dibagi antarpenyelenggara telepon seluler. Karena itu, untuk memperbanyak kapasitas dengan jumlah kanal yang terbatas, digunakan trik-trik tertentu sesuai dengan strategi si penyelenggara.

TDMA

Berbeda dengan FDMA yang memberikan satu pita frekuensi untuk dipakai satu pelanggan, TDMA memberikan satu pita frekuensi untuk dipakai beberapa pelanggan. Jadi kanal-kanal komunikasi dirupakan dalam bentuk slot-slot waktu. Slot waktu adalah berapa lama seorang pelanggan mendapat giliran untuk memakai pita frekuensi. Satu slot waktu digunakan oleh satu pelanggan. Slot-slot waktu ini dibingkai dalam satu periode yang disebut satu frame. Jadi misalkan ada 10 pelanggan yang masing-masing adalah A, B, C, D, E, F, G, H, I, dan J, maka dalam satu frame terdapat 10 slot waktu yang merupakan giliran tiap pelanggan untuk menggunakan pita frekuensi yang sama.

Proses komunikasi multi-access dilakukan dengan menjalankan frame ini berulang- ulang sehingga akan muncul urutan giliran pemakaian saluran seperti: A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-A-B-C-D- E-F-G-H-I-J-A-B-C-dan seterusnya. Tentu saja harus ada pembatasan jumlah pelanggan yang menggunakan satu pita frekuensi ini. Jika tidak dibatasi, periode frame akan terlalu panjang dan akibatnya timbul komunikasi terputus-putus yang mengganggu pembicaraan.

Karena sifatnya yang tidak kontinyu (tidak terjadi pemakaian pita frekuensi terus menerus oleh satu pelanggan dalam satu periode pembicaraan), maka teknik TDMA hanya dapat mengakomodasi data digital atau modulasi digital. Sehingga sinyal-sinyal analog yang akan dikirim, harus diubah menjadi format digital dahulu.

CDMA

Teknik CDMA adalah temuan yang lebih baru dibandingkan dengan FDMA dan TDMA. Teknik CDMA berawal pada tahun 1949 ketika Claude Shannon dan Robert Pierce (yang banyak jasanya untuk kemajuan teknologi telekomunikasi saat ini) menyampaikan ide dasar CDMA. Teknik ini merupakan temuan yang brilian karena kanal yang satu dengan lainnya tidak dibedakan dari frekuensi/FDMA atau waktu/TDMA yang secara awam lebih mudah dipahami, melainkan dengan perbedaan kode. Jadi pada CDMA, seluruh pelanggan menggunakan frekuensi yang sama pada waktu yang sama.

Dalam diagram blok CDMA tampak bahwa data input dari satu pelanggan dikalikan dengan salah satu dari banyak kode PN (pseudo noise). Jumlah kemungkinan kode yang dihasilkan oleh generator kode PN identik dengan jumlah kanal yang disediakan. Jika generator kode PN mampu menghasilkan 100 kode, maka sebanyak itu pula kanal yang diperoleh. Oleh modulator hasil perkalian antara input data dengan kode PN ditumpangkan pada sinyal RF (radio frequency) agar dapat dikirim lewat udara.

Di penerima, demodulator memisahkan sinyal pesan dari sinyal RF yang ditumpanginya. Sinyal pesan yang mengandung kode ini dicocokkan dengan kode PN di penerima. Sinyal pesan akan dipisahkan dari kode dan diteruskan jika kode PN pada sinyal masuk sama dengan kode PN pada penerima.

CDMA (juga disebut DSSS/ direct sequence spread spectrum) merupakan salah satu dari dua jenis teknik murni spread spectrum multiple access (SSMA). Jenis lainnya dikenal sebagai FHMA (frequency hopping spread spectrum). Kedua jenis ini tergolong SSMA karena sinyalnya tersebar (spread) pada spektrum pita frekuensi yang lebar. Pada CDMA, penyebaran sinyal diperoleh akibat proses perkalian data input (yang mempunyai waktu perubahan lambat) dengan kode PN (yang mempunyai waktu perubahan cepat).

Walaupun pita frekuensinya lebar, tegangan sinyal yang dihasilkan sangat kecil, menyerupai noise (bising) yang selalu menyertai gelombang radio. Sehingga apabila dimonitor oleh penerima lain, sinyal yang dipancarkan oleh pengirim berbasis CDMA hanya berupa noise (seolah-olah menunjukkan ketiadaan sinyal pancar) yang tidak mengganggu sinyal lain. Sifat CDMA yang lain adalah kemampuannya untuk tahan terhadap jamming (penutupan oleh sinyal yang lebih kuat) pada pita frekuensi sempit. Hal ini terjadi karena jamming pada pita frekuensi sempit itu tidak akan mengganggu sinyal-sinyal CDMA yang tersebar di pita frekuensi lain.

Biar begitu jika diterapkan pada telepon seluler, CDMA mempunyai masalah yang disebut near-far problem. Masalah ini terjadi akibat pemakaian pita frekuensi yang sama pada waktu yang sama. Akibatnya, pelanggan yang paling dekat dengan base station (BTS) akan mendominasi BTS karena sinyalnya diterima (oleh BTS) paling besar dibandingkan dengan pelanggan lain yang jaraknya lebih jauh. Bagi pelayanan yang baik, hal itu tidak diharapkan. Untuk mengatasinya dipakailah teknik power control. Teknik ini menyebabkan BTS memerintahkan ponsel pelanggan untuk mengurangi daya pancar (secara otomatis) ketika sinyalnya diterima paling besar. Sehingga seluruh pelanggan di areal cakupan BTS akan diterima dengan besar sinyal yang sama.

CDMA dapat dikombinasikan dengan teknik lain untuk menjadi teknik hibrid semacam: FCDMA yang merupakan kombinasi dari FDMA dan CDMA, TCDMA yang merupakan kombinasi dari TDMA dan CDMA. Juga ada DS-FHMA yang merupakan kombinasi dari CDMA/DSSS dengan FHMA.

Jadi, dunia komunikasi bergerak akan terus melejit dan melahirkan teknologi terbaru. Tidak hanya fitur-fitur ponsel, tetapi juga dukungansaluran telekomunikasi. Dewasa ini sistem komunikasi sudah menawarkan suatu kecepatan dan kapasitas, yaitu kecepatan yang tinggi dan kapasitas data yang besar. Infrastruktur telekomunikasi yang dibangun harus menjanjikan kompatibilitas yang tinggi dengan suatu sistem komunikasi yang lain. Disinilah sistem komunikasi digital menjadi idola baru bagi industri telekomunikasi saat ini. Sistem digital disamping mempunyai kompatibilitas yang tinggi dalam integrasi dengan sistem lain, juga adanya kemudahan dalam implementasi secara perangkat keras. Oleh karenanya sistem komunikasi digital semakin dikembangkan untuk memperoleh kecepatan yang tinggi dan kapasitas data yang semakin besar. Sistem komunikasi digital juga memilliki kualitas data yang lebih baik, karena dapat dilakukan pengecekan kesalahan dalam transmisi datanya.

Lahirnya sistem komunikasi spread spectrum pada pertengahan tahun 1950 dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan sistem komunikasi yang dapat mengatasi masalah interferensi, dapat menjamin kerahasiaan informasi yang dikirim dan dapat beroperasi pada tingkat S/N (signal to noise ratio) yang rendah atau tahan terhadap derau yang besar. Dalam sistem komunkasi sekarang ini, dimana penggunaan frekuensi sudah cukup padat sehingga interferensi dan noise dari transceiver lain cukup besar. Dalam komunikasi radio kita juga sering mendengar adanya penyadapan pembicaraan pada handphone oleh pesawat radio lain. Namun dengan sistem spread spektrum ketakutan yang dialami pada sistem komunikasi diatas akan dapat di atasi karena data yang ditransmit pada sistem spread spektrum adalah data acak yang dikenal sebagai noise. Jadi jika penerima tidak mengetahui code yang digunakan untuk melebarkan data maka penerima hanya akan menerima sinyal noise saja. Istilah spread spectrum digunakan karena pada sistem ini sinyal yang ditransmisikan memiliki bandwidth yang jauh lebih lebar dari bandwidth sinyal informasi (mencapai ribuan kali). Proses penebaran bandwidth sinyal informasi ini disebut spreading.

Kelebihan lain yang dimiliki sistem spread spektrum adalah sistem ini dapat digunakan untuk multiple acces secara CDMA (Code Division Multiple Acces). Sistem CDMA yaitu suatu sistem multiple akses yang dapat dilakukan pada frekuensi dan waktu yang sama, caranya dengan menggunakan kode yang berbeda. Jika dibanding sistem multiple akses yang lain seperti FDMA (Frekuency Division Multiple Acces) dan TDMA (Time Division Multiple Acces), maka CDMA merupakan sistem yang sedang di minati oleh perusahaan komunikasi, karena dapat digunakan pada frekuensi yang sama secara bersamaan.

Di Indonesia belum banyak yang mengunakan sistem CDMA untuk infrastruktur telekomunikasinya. Perusahaan telepon seluler sebagian besar menggunakan sistem TDMA yaitu untuk telepon seluler GSM. Sedangkan perusahaan telepon seluler yang sudah menggunakan sistem CDMA adalah Komselindo. Sistem yang sekarang sudah digunakan adalah narrow-band CDMA dan rencananya Komselindo akan membuat infrastruktur untuk wide-band CDMA.

Spread sprectrum sendiri belum banyak digunakan , dalam bidang jaringan komputer kita sudah mengenal Wave LAN. Wave LAN ini menggunakan spread spectrum untuk mentransmisikan datanya. Sistem ini dibuat dalam bentuk card. Wave LAN sendiri mempunyai kecepatan yang cukup tinggi untuk teknologi radio pada frekuensi rendah, yaitu 1,5 Mbps. Dengan kecepatan sebesar itu Wave LAN sudah setara dengan komunikasi T1 pada VSAT yang sering digunakan untuk komunikasi-komunikasi di indonesia. Kecepatan ini juga jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan modem radio yang paling cepat yang pernah yang umum digunakan untuk komunikasi radio paket, yaitu hanya 64 Kbps, inipun harus menggunakan transceiver yang mempunyai bandwith yang lebar. Namun alat ini masih cukup mahal untuk pasaran di indonesia, satu card harnganya sekitar $ 5.000 USA.

Dalam teknik spread spektrum sendiri di kenal beberapa cara modulasi yang digunakan untuk melebarkan dan mangacak datanya. Teknik spreading yang terkenal dan banyak dipilih para produsen dalam desain produk adalah Direct Sequence Spread Spektrum (DSSS). Sistem ini dipilih karena adanya kemudahan dalam mengacak data yang akan dispreading. Dalam DSSS spreading hanya menggunakan sebuah generator noise yang periodik yang di sebut Pseudo Noise Generator.

Sebuah sistem spread-spectrum harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Sinyal yang dikirimkan menduduki bandwidth yang jauh lebih lebar daripada bandwidth minimum yang diperlukan untuk mengirimkan sinyal informasi
  2. Pada pengirim terjadi proses spreading yang menebarkan sinyal informasi dengan bantuan sinyal kode yang bersifat independen terhadap informasi
  3. Pada penerima terjadi proses despreading yang melibatkan korelasi antara sinyal yang diterima dan replika sinyal kode yang dibangkitkan sendiri oleh suatu generator lokal.

Kode yang digunakan pada sistem spread spectrum memiliki sifat acak tetapi periodik sehingga disebut sinyal acak semu (pseudo random). Kode tersebut bersifat sebagai noise tapi deterministik sehingga disebut juga noise semu (pseudo noise). Pembangkit sinyal kode ini disebut Pseudo Rando Generator (PRG) atau pseudo noise generator (PNG). PRG inilah yang akan melebarkan dan sekaligus mengacak sinyal data yang akan dikirimkan. Dalam komunikasi spread spectrum semakin lebar bandwidth akan semakin tahan terhadap jamming dan akan semakin terjamin tingkat kerahasiaannya. Disamping itu akan semakin banyak kanal yang bisa dipakai. Seperti yang di terangkan oleh Shanon , salah seorang ahli statistik telekomunikasi, dalam ilmu komunikasi dinyatakan bahwa kapasitas kanal akan sebanding dengan bandwidth transmisi dan logaritmik dari S/N-nya. Jadi agar sistem komunikasi dapat bekerja dengan kapasitas kanal yang tetap pada level daya noise yang tinggi (S/N yang rendah), dapat dilakukan dengan jalan memperbesar bandwidth transmisi W. Disamping itu Shannon juga mengemukakan bahwa sebuah kanal dapat mentransmisikan informasi dengan probabilitas salah yang kecil apabila terhadap infromasi tersebut dilakukan pengkodean yang tepat dan rate infromasi yang tidak melebihi kapasitas kanal meskipun kanal tersebut memuat derau acak.

Sistem komunikasi spread spectrum sebagai salah satu sistem komunikasi digital, memiliki beberapa kelebihan dibandingkan sistem komunikasi analog yaitu:

  • Lebih kebal terhadap jamming
  • Mampu menekan interferensi
  • Dapat dioperasikan pada level daya yang rendah
  • Kemampuan multiple access secara CDMA (Code Division Multiple Access)
  • Kerahasiaan lebih terjamin
  • Ranging

Dalam teknik spread spectrum sendiri ada beberapa macam cara yang digunakan, yaitu Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS), Frequency Hopping Spread Spectrum (FSSS), Time Hopping Spread Spectrum (TSSS) dan Chirp atau Hybrid Spread Spectrum. Pada tiap-tiap metode mempunyai keunggulan sendiri-sendiri, namun secara umum DSSS mempunyai unjuk kerja terbaik untuk gangguan noise dan anti jamming, serta paling susah untuk dideteksi. Namun ada kekurangan pada DSSS ini, yang sering menjadi kendala dalam implementasinya, yaitu pada proses sinkronisasi sinyal yang diterima dengan sinyal dari generator noise lokal pada penerima.

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

MULTIPLEXING

December 30, 2008


MULTIPLEXING

Multuplexig adalah Dasar dari sebuah data network.Multiplexing mengizinkan banyak hubungan (koneksi) melewati network berbagi fasilitas transmisi yang sama. Dua tipe utama dari multiplexing yang dibahas disini adalah; Time-division multiplexing (TDM) dan Statistical multiplexing (statmux).

TDM

Time-division multiplexing adalah mengalokasikan sejumlah waktu pada suatu rangkaian fisik ke sejumlah koneksi. Karena rangkaian fisik biasanya memiliki kecepatan aliran data yang konstan, maka pengalokasian jumlah waktu dalam sirkuit berarti sama dengan pengalokasian bandwidth.

TDM adalah teknologi sinkronisasi. Data yang memasuki network ditransmisi kepada sumber waktu utama (master clock), sehingga tidak akan pernah ada kemacetan data sewaktu akan ditransmisikan.

Salah satu permasalahan utama dari TDM adalah bandwidth yang dialokasikan ke sejumlah koneksi hanya dialokasikan ke koneksi tersebut, baik yang sedang digunakan maupun tidak. Jadi kita tetap membayar untuk kapasitas yang tidak digunakan, hal ini mengakibatkan TDM cukup mahal.

Statistical Multiplexing

Statistical multiplexing menjadi popular dikarenakan masalah biaya pada TDM. Statistical multiplexing adalah membagi bandwidth transmisi antara semua user dari suatu network, tanpa adanya dedicated reserved untuk salah satu koneksi.

Salah satu keunggulan statmux terhadap TDM adalah lebih murah. Dengan jaringan statmux, kita dapat menjual kapasitas yang lebih besar daripada network yang kita miliki. Pada teorinya tidak semua pengguna network menginginkan pengiriman data dengan kecepatan maksimum pada waktu yang bersamaan.

Terdapat beberapa teknologi statmux, ada tiga hal utama yang menjadi perhatian dalam teknologi ini dalam 10 tahun belakangan adalah; IP, Frame Relay, dan ATM. Adapun MPLS dapat dikatakan merupakan tipe keempat dari teknologi statmux.

Teknologi statmux bekerja dengan cara membagi jaringan trafik ke dalam unit diskrit dan menangani semua unit secara terpisah. Dalam IP, unit ini disebut packet; pada Frame Relay disebut frame; pada ATM disebut sebagai cell. Hal diatas memiliki konsep yang sama pada masing-masing kasusnya. Stamux networks memungkinkan carrier menangani lebih banyak daripada yang dimiliki oleh network yang digunakan (oversubscription), juga lebih murah daripada sirkuit TDM.

Isu – isu yang ada dalam Statmux

Statmux memperkenalkan beberapa hal yang tidak terdapat pada jaringan TDM. Ketika paket memasuki jaringan tidak serempak (asinkron), hal itu mengakibatkan sumber bertentangan. Jika dua paket memasuki router tepat pada waktu yang bersamaan (datang dari dua interface yang berbeda) dan ditujukan kepada keluaran interface yang sama, hal itu merupakan sumber bertentangan. Salah satu dari paket harus menunggu paket lain untuk ditransmisikan, sedangkan paket yang tidak ditransmisikan harus menunggu sampai paket pertama sudah terkirim pada link in question. Walaupun waktu tunda terjadi, tetapi biasanya tidaklah besar.

Terdapat juga beberapa hal yang harus dilakukan dengan paket yang terdapat pada buffers. Beberapa tipe trafik (transfer data bulk) diuraikan dengan cara disimpan (buffered) sedangkan trafik yang lain (suara, gambar) tidak. Sehingga diperlukan mekanisme perlakuan yang berbeda untuk memenuhi permintaan akan aplikasi yang berbeda dalam network yang digunakan.

Teknologi Statmux memiliki 3 kemampuan yang tidak dimiliki oleh teknologi TDM, yaitu; Buffering ( Penyimpanan), Queuing (Antrian), dan Dropping (Penurunan).

Frame Relay memiliki metode paling sederhana yang dapat menjawab isu-isu ini. Konsepnya adalah committed information rate
(CIR), forward dan backward explicit congestion notification (FECN dan BECN) dan discard eligible
(DE) bit.

IP memiliki Diff Serv Code Point (DSCP) bit, yang berkembang dari bit IP utama. IP juga memilki random early discard (RED), yang memiliki keuntungan bahwa TCP baik dalam hal penanganan drop dan TCP adalah protokol transport-layer yang paling banyak digunakan untuk IP. Akhirnya IP memiliki bit explicit congestion notification (ECN), yang masih cukup baru dan baru digunakan secara terbatas.

ATM menjelaskan sumber yang bertentangan dengan cara membagi data dalam ukuran kecil yang disebut cells. ATM juga memilki 5 kelas pelayanan yang berbeda, yaitu :

  • CBR (constant bit rate)
  • rt-VBR (real-time variable bit rate)
  • nrt-VBR (non-real-time variable bit rate)
  • ABR (available bit rate)
  • UBR (unspecified bit rate)

IP merupakan protokol statmux yang pertama. RFC 791 mendefinisikan IP pada tahun 1981 dan menjadi penting dalam beberapa tahun. Frame Relay tidaklah tersedia untuk komersial sampai di awal tahun 1990, sedangkan ATM muncul pada pertengahan 1990. Untuk melihat atau mendownload RFC 791 ini silahkan ke: http://www.ietf.org/rfc/rfc0791.txt?number=791.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh administrator network saat mengganti sirkuit TDM dengan Frame Relay dan sirkuit ATM adalah bahwa menjalankan IP diatas FR atau ATM berarti menjalankan satu protocol statmux diatas protocol statmux yang lain. Hal ini biasanya kurang optimal karena mekanisme yang ada pada lapisan statmux untuk menyelesaikan masalah sumber bertentangan seringkali tidak diterjemahkan dengan sempurna terhadap yang lainnya.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan untuk memilih satu diantara dua hal. Salah satunya adalah menghindari kemacetan pada lapisan dua jaringan statmux, atau kita menemukan cara untuk memetakan lapisan tiga mekanisme pengaturan pertentangan ke lapisan dua mekanisme pengaturan pertentangan. Karena kedua hal itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin dan secara finansial tidaklah menarik menghindari kemacetan pada lapisan dua jaringan statmux, kita butuh untuk bisa memetakan lapisan tiga mekanisme pengaturan pertentangan kepada lapisan dua. Hal ini salah satu alasan MPLS memegang peranan penting dalam perkembangan jaringan saat ini.

Apa itu Traffic Engineering?

Network enginerring akan memanipulasi jaringan agar sesuai dengan trafik. Kita membuat prediksi terbaik tentang bagaimana sebuah trafik dapat berjalan (mengalir) melewati jaringan sehingga kita dapat memilih sirkuit yang tepat dan peralatan jaringan (routers, saklar, dll) yang sesuai. Network enginerring biasanya dilakukan dalam jangka waktu panjang karena waktu yang dibutuhkan untuk menginstal sirkuit atau peralatan baru bisa sangat lama.

Traffic engineering memanipulasi trafik agar sesuai dengan jaringan. Tidak peduli betapa gigihnya dicoba jaringan trafik tidak akan sesuai 100% dengan prediksi yang telah dibuat.

Traffic Engineering pada intinya adalah memindahkan traffic sehingga traffic dari link yang memilki congestion dipindahkan ke link yang sedang tidak digunakan. Traffic Engineering dapat diimplementasikan dengan cara yang semudah tweaking IP metrics dalam interface atau sesuatu yang serumit menjalankan sebuah ATM PVC full-mesh dan mengoptimalisasi jalur PVC berdasarkan permintaan traffic yang melewatinya.

Traffic engineering dengan MPLS adalah suatu usaha untuk memperoleh koneksi terbaik berorientasi pada teknik traffic engineering (seperti penempatan ATM PVC) dan menggabungkannya dengan perutean IP (routing IP). Teorinya adalah melakukan traffic engineering dengan MPLS lebih efektif seperti pada ATM tetapi tanpa banyak kekurangan IP yang melewati ATM.

Traffic engineering sebelum MPLS

IP traffic engineering secara umum mengontrol jalur dimana IP melewati jaringan kita untuk mengubah hubungan seperti biasanya.. Tidak ada cara yang memungkinkan untuk mengontrol jalur yang dilewati trafik berdasarkan dari mana trafik itu datang, tetapi kita hanya bisa mengontrol ke mana tujuan trafik itu. Meskipun IP traffic engineering baik dan
banyak jaringan besar menggunakannya dengan sukses, kita akan melihat bahwa banyak problem IP traffic engineering yang tidak dapat diselesaikan.

ATM dapat digunakan untuk melewatkan PVC di jaringan dari sebuah sumber trafik ke tujuan. Hal ini berarti kita memiliki lebih banyak hal yang dikontrol aliran trafik dalam jaringan. Beberapa dari ISP terbesar di dunia menggunakan ATM untuk mengendalikan trafik di jaringan. Mereka melakukannya dengan membuat sebuah ATM PVC diantara satu set router dan secara periodik mengukur dan menempatkan ulang ATM PVC itu berdasarkan trafik yang diteliti dari router. Akan tetapi masalah yang muncul adalah router yang bersifat full-mesh menyebabkan O(N2) akan flooding ketika suatu hubungan (link) mati dan O(N3) flooding ketika router mati. Hal ini menyebabkan banyak kekuatiran di beberapa jaringan besar.

Mungkin istilah OFDM sangat familiar bagi pengguna DVB dan wireless. Atau malah nggak pernah tau OFDM tapi sering menggunakannya. Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) adalah teknik modulasi yang banyak digunakan dalam sistem data digital seperti Digital Video Broadcasting (DVB), Digital AudioBroadcasting (DAB) dan Wireless Local Area Network (WLAN). Hal ini dikarenakan beberapa keunggulan OFDM yaitu effisiensi pada spectralnya, tahan terhadap interferensi RF dan sedikit kemungkinan mengalami distorsi. Dibalik itu semua, OFDM sulit di implemnetasikan karena sangat rentan terhadap frekuensi error dan high peak to average power ratio (PAPR). Semakin banyak subcarriers maka semakin lebar pula Out of Band (OOB) dan akan menurunkan kualitas OFDM. Upaya untuk meningkatkan kinerja sistem OFDM dapat dilakukan dari perbaikan bentuk spectralnya. Ada beberapa algoritma pengkodean untuk meningkatkan kualitas OFDM salah satunya adalah Polynomial Cancellation Coding (PCC). Pada prisnsipnya PCC berfungsi menekan bandwidth sehingga interferensi dapat ditekan sekecil mungkin.

Mulanya iseng pengen baca baca teorinya Kusha Raj Panta and Jean Armstrong eh malah keterusan soalnya menurut pengalaman rekan rekan yang pake DVB ada aja probelmnya…..hehhehe. Ok deh langsung aja di simulasikan dengan matlab.


Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

REDUKSI NOISE PADA GAMBAR DENGAN FILTER RATA-RATA

December 30, 2008

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Citra (image), istilah lain untuk gambar, sebagai salah satu komponen multimedia memegang peranan yang sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Citra mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki oleh data teks yaitu citra kaya dengan informasi. Ada sebuah peribahasa yang berbunyi ‘Sebuah gambar bermakna lebih dari seribu kata’, maksudnya sebuah gambar dapat memberikan informasi yang lebih banyak daripada informasi tersebut disajikan dalam bentuk kata-kata (tekstual).

Akan tetapi, seringkali informasi yang disajikan dengan citra berbeda dengan informasi aslinya. Dalam hal ini, citra mengalami penurunan mutu misalnya mengandung cacat atau derau, warnanya terlalu kontras, kurang tajam, kabur, dan masih banyak lagi. Agar citra mudah diinterpretasi, maka citra yang mengalami degradasi tersebut perlu dimanipulasi menjadi citra lain yang kualitasnya lebih baik yaitu melalui sebuah proses yang dinamakan pengolahan citra (image processing).

Pengolahan citra yang dibahas dalam makalah ini adalah dengan mereduksi noise pada gambar dengan filter rata-rata .noise pada citra bisa di sebabkan karena gangguan pada saat proses capture(pengambilan gambar)misalnya kamera tidak fokus ataupun munculnya bintik-bintik yang disebabkan proses capture tidak sempurna

  1. Tujuan

Tujuan tugas mata kuliah ‘Pengolahan Citra Digital’ ini adalah mereduksi/mengurangi noise pada gambar dengan filter rata-rata dengan program Visual Basic 6.0

  1. Pembatasan Masalah

    Batasan-batasan masalah dalam tugas ini adalah:

  2. Masukan sistem adalah citra dalam aras RGB (Red, Green, Blue) dan aras keabuan tanpa membahas proses pengambilan, pemotretan dan pemprosesan citra sebelum digunakan.
  3. Format citra asli merupakan citra dalam format Windows Bitmap Graphics ( ekstensi *.bmp).
  4. perangkat program yang di gunakan adalah Visual Basic 6.0
  5. keluaran system adalah citra yang sudah di reduksi noisnya,beserta nilai SNR nya

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian citra

Definisi citra menurut kamus webster adalah ” Suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dri suatu benda. Secara harafiah, citra (image) adalah gambar pada bidang dwimatra (dua dimensi). Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi menerus (continue) dari intensitas cahaya pada bidang dwimatra. Sumber cahaya, objek memantulkan kembali sebagian dari berkas cahaya tersebut. Pemantulan cahaya ini ditangkap oleh alat-alat optik, misalnya mata manusia, kamera, pemindai (Scanner) dsb, Sehingga bayangan obyek citra tersebut terekam.

Citra dapat dikelompokkan menjadi citra tampak dan citra tak tampak. Contoh citra tampak adalah foto, gambar, lukisan , serta hologram (citra optis). Sedangkan citra tak tampak misalnya data gambar dalam file (citra digital), dan citra yang direpresentasikan menjadi fungsi matematis, citra tak tampak ini harus diubah menjadi citra tampak, misalnya dengan menampilkannya di monitor.

Meskipun sebuah citra kaya informasi, namun seringkali citra mengalami penurunan mutu (degradasi), misalnya mengandung derau (noise), warnanya terlalu kontras, kurang tajam, kabur (blurring), dan sebagainya. Citra semacam ini menjadi lebih sulit diinterpretasi karena informasi yang disampaikan oleh citra tersebut menjadi berkurang. Agar citra yang mengalami gangguan mudah diinterpretasi, maka citra tersebut perlu dimanupulasi menjadi citra lain yang kualitasnya lebih baik.

Pengolahan cittra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakan komputer, menjadi citra yang kualitasnya lebih baik. Pengolahan citra bertujuan memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau mesin (komputer). Teknik- teknik pengolahan citra mentransformasikan citra menjadi citra lain. Jadi, masukannya adalah citra dan keluarannya juga citra, namun citra keluaran mempunyai kualitas lebih baik dari pada citra masukan.

Suatu citra digital melalui pengolahan citra menghasilkan citra digital yang baru; termasuk didalamnya adalah perbaikan citra (image restoration) dan peningkatan kualitas citra (image enhacement). Sedangkan analisis citra digital (digital image analysis) menhasilkan suatu keputusan atau suatu data, termasuk didalamnya adalah pengenalan pola.

Komponen Citra Digital

Setiap citra digital memiliki beberapa karakteristik, antara lain ukuran citra, resolusi, dan format nilainya. Umumnya citra digital berbentuk persegi panjang yang mamiliki lebar dan tinggi tertentu. Ukuran ini biasanya dinyatakan dalam banyaknya titik atau piksel, sehingga ukuran citra selalu bernilai bulat.

Ukuran citra dapat juga dinyatakan secara fisik dalam satuan panjang (misalnya millimeter atau inch). Dalam hal ini tentu saja harus ada hubungan antara ukuran titik penyusun citra dengan satuan panjang. Hal tersebut dinyatakan dengan resolusi yang merupakan ukuran banyaknya titik untuk setiap satuan panjang. Biasanya satuan yang digunakan adalah dpi (dot per inch). Makin besar resolusi makin banyak titik yang terkandung dalam citra dengan ukuran fisik yang sama. Hal ini memberikan efek penampakan citra menjadi semakin luas.

Format citra digital ada bermacam-macam. Karena sebenarnya citra merepresentasikan informasi tertentu, sedangkan informasi tersebut dapat dinyatakan secara bervariasi, maka citra yang mewakilinya dapat muncul dalam berbagai format. Citra yang merepresentasikan informasi hanya bersifat biner untuk membedakan dua keadaan tentu tidak sama citra dengan informasi yang lebih kompleks sehingga memerlukan lebih banyak keadaan yang diwakilinya. Pada citra digital semua informasi tadi disimpan dalam bentuk angka sedangkan penampilan angka tersebut biasanya dikaitkan dengan warna.Citra digital tersusun atas titik-titik yang biasanya berbentuk persegi panjang atau bujursangkar (pada beberapa sistem pencitraan, piksel-piksel penyusun citra adapula yang berbentuk segienam) yang secara beraturan membentuk baris-baris dan kolom-kolom. Setiap titik memiliki koordinat sesuai dengan posisinya dalam citra. Koordinat ini biasanya dinyatakan dalam bilangan bulat positif, yang dapat dimulai dari 0 atau 1 tergantung pada system yang digunakan. Setiap titik juga memiliki nilai berupa angka digital yang merepresentasikan informasi yang diwakili titik tersebut. Format nilai piksel sama dengan format citra keseluruhan.Pada kebanyakan sistem pencitraan nilai ini biasanya berupa bilangan positif juga.

Noise pada citra

Pada saat prses capture (pengambilan gambar),ada beberapa gangguan yang mngkn terjadi ,seperti kamera tidak fokus atau munculnya bintik-bintik yang bisa jadi disebabkan oleh proses capture yang tidak sempurna,selain itu noise juga terjadi akibat adanya kotoran-kotoran pada citra

Reduksi noise menggunakan Filter Rata-rata

Ada beberapa teknik untuk mengurangi noise,salah satunya menggunakan filter rata-rata.

Dalam pengertian noise sebagai suatu nilai yang berbeda dengan semua tetangganya maka dapat dikatakan noise merupakan nilai-nilai yang berada pada frekuensi tinggi,untuk mengurangi noise digunakan Low Pass Filter (LPF). Salah satu dari bentuk LPF adalah filter rata-rata.

Filter rata-rata adalah filter H dalam bentuk matriks berukuran mxn dan nilainya adalah sama untuk setiap elemen. Dan karena berisfat LPF maka jumlah seluruh elemen adalah satu,di tuliskan dengan:

Ada peningkatan SNR setelah dilakukan filter rata-rata,hal ini berarti jumlah noise berkurang

Berikut ini diberikan contoh program reduksi noise dengan filter rata-rata menggunakan program Visual Basic 6.0

Pembahasan

Senarai di bawah ini dipergunakan untuk proses pembangkitan noise gaussian

Private Sub Command4_Click()

probnoise = Val(Text1)

dx = 0

sx = 0

n1 = 0

For i = 1 To Picture2.ScaleWidth Step 15

n1 = n1 + 1

n2 = 0

For j = 1 To Picture1.ScaleHeight Step 15

warna = Picture1.Point(i, j)

r = warna And RGB(255, 0, 0)

g = Int((warna And RGB(0, 255, 0)) / 256)

b = Int(Int((warna And RGB(0, 0, 255)) / 256) / 256)

wx = Int((r + g + b) / 3)

n2 = n2 + 1

wt(n1, n2) = wx

Picture1.PSet (i, j), RGB(wx, wx, wx)

‘ Pembangkitan Noise Gaussian

‘Menggunakan metode Rejection

sw = 0

While sw = 0

x = 2 * Rnd – 1

y = Rnd

If y < Exp(-x ^ 2) Then

sw = x

End If

Wend

wx1 = Abs(wx + sw * 255 * probnoise)

If wx1 > 255 Then wx1 = 255

Picture2.PSet (i, j), RGB(wx1, wx1, wx1)

nx = nx + Abs(wx1 – wx)

sx = sx + Abs(wx)

Next j

Next i

snr = 10 * Log(sx / nx) / Log(10)

Label4.Caption = snr

End Sub

Private Sub Form_Load()

Randomize Timer

For i = 1 To 3

For j = 1 To 3

h(i, j) = 1 / (9)

Next j

Next i

End Sub

Sedangkan untuk senarai program filter rata-rata adalah sebagai berikut

Private Sub Command2_Click()

Dim xt(400, 400) As Integer

‘ rgb to gray

n1 = 0

For i = 1 To Picture1.ScaleWidth Step 15

n1 = n1 + 1

n2 = 0

For j = 1 To Picture1.ScaleHeight Step 15

warna = Picture2.Point(i, j)

r = warna And RGB(255, 0, 0)

g = Int((warna And RGB(0, 255, 0)) / 256)

b = Int(Int((warna And RGB(0, 0, 255)) / 256) / 256)

n2 = n2 + 1

wx = Int((r + g + b) / 3)

xt(n1, n2) = wx

Next j

Next i

‘proses filter dengan konvolusi

nx = 0

sx = 0

For i = 1 To n1

For j = 1 To n2

z = 0

For u1 = -1 To 1

For u2 = -1 To 1

z = z + h(u1 + 2, u2 + 2) * xt(i + u1, j + u2)

Next u2

Next u1

Picture3.PSet ((i – 1) * 15 + 1, (j – 1) * 15 + 1), RGB(z, z, z)

nx = nx + Abs(z – wt(i, j))

sx = sx + Abs(wt(i, j))

Next j

Next i

snr = 10 * Log(sx / nx) / Log(10)

Label5.Caption = snr

End Sub

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

  1. Filtering pada citra adalah mengambil fungsi citra pada frekuensi tertentu dan membuang fungsi citra pada frekuensi-frekuensi tertentu.
  2. citra dengan gradasi tinggi berada pada frekuensi rendah.
  3. Bila ingin mempertahankan gradasi atau banyaknya level warna pada suatu citra,maka yang dipertahankan adalah frekuensi rendah dan frekuensi tinggi dapat dibuang untuk mengurangi reduksi noise dan proses blur.
  4. Untuk mengukur kinerja dari filter digunakan persamaan SNR apabila SNR yang dihasilkan setelah melewati filter lebig besar maka gambar yang dihasilkan semakin baik.

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

TEMS Investigation

December 28, 2008
Estimating GPRS link bit rates in TEMS Investigation

Abstract

A vast majority of the operators are currently designing and dimensioning GPRS networks. Therefore, the operators are eager to get information on expected link bit rates achievable when introducing GPRS prior to the actual deployment. By introducing a new measure to TEMS Investigation, the users are pro- vided a means of estimating the expected GPRS downlink bit rates by per- forming measurements on a speech channel.

1 Background and motivation

GPRS is a general packet radio service which is intended for GSM net- works. All logical channels, whether GPRS or GSM, use the same symbol modulation: Gaussian minimum shift keying (GMSK). In fact, the radio interface is not altered at all. Besides from different channel coding and different interleaving, the behaviour is very similar seen from a physical layer point of view. This has the implication that it is possible to perform measurements on a speech channel and estimate the performance on a cer- tain GPRS packet data traffic channel.

When GPRS is initially introduced, the interference encountered by GPRS users is typically dominated by speech users. Gradually, as the number of GPRS users increase, this assumption may become invalid. However, by performing measurements and predictions today, the results obtained are likely to reflect the scenario at the initial stage of GPRS deployment.

Each radio block in GPRS consists of four consecutive radio bursts. Each radio block carries 456 bits. These bits are used for data bits (payload), con- trol bits and in most cases some bits for channel error protection. The prob- ability of receiving an erroneous block depends on the current channel quality and the amount of channel protection. The achieved link bit rate is determined by the amount of data bits carried by the radio block, but also on the block error rate (BLER). GPRS provides four different coding schemes (CS). An illustration of the block error rates for CS-1 to CS-4 is shown in figure 1. It is clearly seen that CS-1 is most robust to poor channel quality.

Figure 1. Block Error Probability for different C/I ratios and coding schemes

Even though CS-1 is most robust at poor channel qualities, the peak bit rate for CS-1 is much lower than for example CS-4. Figure 2 shows the resulting link bit rates for the different coding schemes for varying channel qualities. Figure 2 assumes a two-time-slot mobile moving at 50km/h in a radio environment corresponding to a typical urban channel. For good qualities, that is high C/I levels, the peak bit rates are clearly seen. These peak rates are those which can be utilized by upper layer protocols.

Figure 2. Link bit rates for different C/I ratios and coding schemes

To be able to provide error free delivery of the radio blocks, a protocol for handling retransmissions is incorporated in GPRS. This is handled by the RLC protocol. Due to protocol limitations, such as limited transmitter win- dow size, it may happen that the transmitter becomes unable to transmit incoming radio blocks for periods of time. This is referred to as stalling of the protocol, and the implication is that the resulting link bit rate is reduced. Hence, the link bit rate does not only depend on the actual BLER, but also on the behaviour of the RLC protocol. This document does not further describe the background of stalling. For example, [1] describes stalling in detail.

The degree of link bit rate reduction depends on several parameters:

• current channel quality

• number of simultaneous time slots used

• polling interval of packet acknowledgement reports

• round trip delay time for the route “packet control unit (PCU) -
mobile station – PCU”

Figure 3 illustrates the link bit rate reduction due to protocol stalling. The scenario shown assumes a two-slot mobile, a polling interval of 20 radio blocks and a round trip delay of 120ms. The results without regarding pro- tocol stalling is shown with dashed lines in figure 3. It can be seen that the link bit rate for CS-4 is reduced over almost the entire operating range. CS-1, on the contrary, is only affected for rather poor qualities.

Figure 3. Bit rate reduction due to protocol stalling. Results accounting for protocol stall- ing are shown with solid lines.

2 Measurement method

The estimation procedure is essentially performed by utilizing information from the physical layer. This information is produced by the mobile receiver and is collected for each received radio burst by using an ordinary GSM traffic channel. Utilizing information from four consecutive radio bursts, the block error probability (BLEP) for each of the coding schemes (CS-1 to CS-4) is estimated. The BLEP of a certain radio block is highly dependent on the distribution of errors over the corresponding four bursts. For example, consider two radio blocks (A and B) encountering the same mean quality. Further, assume that A has no variation during its four bursts, while B has one very poor burst but the other three bursts have quite good quality. If the mean quality is low, B yields a better block error probability than A thanks to interleaving. By using this high time resolu- tion information (burst-wise) makes it possible to obtain good accuracy of the estimation of the would-be performance.

Since there exists no real GPRS systems, the BLEP estimation procedure is derived based on computer simulations of the physical layer. Different radio environments, as well as different interference characteristics, are considered when developing the BLEP estimator.

Furthermore, as indicated in figure 3, the resulting link bit rate depends on the behaviour of the RLC protocol. In TEMS Investigation, the link bit rate estimation procedure also takes into account the parameters men- tioned in section 1. The number of time slots, round trip delay and polling interval are input by the TEMS user. In addition, it is also possible to replay a log file with an arbitrary protocol parameter setting to examine the impact of different system configurations. For example, the influence of different round trip delays is possible to examine by replaying a previ- ously recorded log file with varying round trip delay times.

3 Drive test example

To illustrate the usage of GPRS predictions, the results from a test drive in a live 1/1-reuse network is shown in figure 4. The number of hopping fre- quencies is 15 and the mobile speed is approximately 50km/h. The left plot shows the estimated throughput without considering RLC protocol stalling. The right plot shows the estimated link bit rates with the same assumptions regarding the RLC protocol as mentioned in section 2, that is, a two-slot mobile, 20 blocks polling interval and 120ms round trip delay. It is seen in figure 4 that CS-4 is clearly best when RLC limitations is not regarded. However, when the protocol limitations are taken into account the right plot reveals that CS-4 is no longer best suited. It is seen that CS-3 is best and it is also noted that CS-3 is not significantly better than CS-2.

Figure 4. Left figure: Link bit rates without regarding RLC limitations. Right figure: Bit rate reduction due to protocol stalling

Note : Need Pathloss 4.0?? or TEMS 6.0/8.2?? +6285640500028 anwar_alcatel@yahoo.co.id

Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

Small Ville Session 8

December 28, 2008
Small Ville Session 8

1. Small Ville Session 8 Episode 1 : Odyssey

part 1 part 2 part 3 part 4

2. Small Ville Session 8 Episode 2 : plastique

part 1 part 2 part 3 part 4

3. Small Ville Session 8 Episode 3 : Toxic

part 1 part 2 part 3 part 4

4. Small Ville Session 8 Episode 4 : Instinct

part 1 part 2 part 3 part 4

5. Small Ville Session 8 Episode 5 : Committed

part 1 part 2 part 3 part 4

6. Small Ville Session 8 Episode 6 : prey

part 1 part 2 part 3 part 4

7. Small Ville Session 8 Episode 7 : Identity

part 1 part 2 part 3 part 4

Note : Need Pathloss 4.0?? Contact me on +628564050028 or
anwar_alcatel@yahoo.co.id

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

Prison Break Session 4

December 28, 2008

Prison Break Session 4

1. Prison Break Session 4 : Episode 1
2. Prison Break Session 4 : Episode 2
3. Prison Break Session 4 : Episode 3
4. Prison Break Session 4 : Episode 4
5. Prison Break Session 4 : Episode 5
6. Prison Break Session 4 : Episode 6
7. Prison Break Session 4 : Episode 7
8. Prison Break Session 4 : Episode 8
9. Prison Break Session 4 : Episode 9
10. Prison Break Session 4 : Episode 10
11. Prison Break Session 4 : Episode 11
12. Prison Break Session 4 : Episode 12
13. Prison Break Session 4 : Episode 13a Episode 13b
14. Prison Break Session 4 : Episode 14
15. Prison Break Session 4 : Episode 15a Episode 15b
16. Prison Break Session 4 : Episode 16

Note : Need Pathloss 4.0?? U can contact me on +6285640500028 or anwar_alcatel@yahoo.co.id

Heroes Session 3

December 27, 2008

Here You can Download Heroes Session 3

1. Heroes Session 3 Part 1 : Villains

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4

2. Heroes Session 3 Part 2 : The Butterfly Effect

Part 1 Part2 Part3 Part4

3. Heroes Session 3 Part 3 : One of Us One of them

Part1 Part2 Part3 Part4

4. Heroes Session 3 Part 4 :Im Become Death

Part1 Part2 Part3 Part4

5. Heroes Session 3 Part 5 : angels and monster

Part1 Part2 Part3 Part4

6. Heroes Session 3 Part 6 : dying of the light

Part1 Part2 Part3Part4

7. Heroes Session 3 Part 7 :eris quod sum

Part1 Part2 Part3 Part4

8. Heroes Session 3 Part 8 :

Download : Here

9. Heroes Session 3 Part 9 :

Download: Here

10. Heroes Session 3 Part 10 :

Download : Here

11. Heroes Session 3 Part 11 :

Download : Here

12. Heroes Session 3 Part 12 :

Download : Part 1 Part 2

13. Heroes Session 3 Part 13 :

Download: Part 1 Part 2

14. Heroes Session 3 Part 14 :

Download: Part 1 Part 2 part 3 part 4

15. Heroes Session 3 Part 15 :

Download: Part 1 Part 2 part 3 part 4

Any one need pathloss 4.0 full tools (interference and coverage tools)?? Contact me on +6285640500028 or anwar_alcatel@yahoo.co.id

Pathloss 4.0 Tools

December 24, 2008

Here you can download tools for your pathloss:

1. Antena Data Files

Antenna Nokia : http://www.4shared.com/file/77381113/1110e124/nokia_ant.html

Antena andrew : http://www.4shared.com/file/77381295/32ec7040/andrew.html

RFS : http://www.4shared.com/file/77381536/5445dff5/rfs.html

Andrew 2005 : http://www.4shared.com/file/77382487/d3c1f371/andrew_2005.html

comelit : http://www.4shared.com/file/77382612/71ed68d9/comelit.html

Gabriel : http://www.4shared.com/file/77382886/addc3a83/gabriel.html

2. Radio Data Files

Minilink Etsi : http://www.4shared.com/file/77379024/e27ff24d/MINILINK_ETSI_R10_Rev_B.html

codan : http://www.4shared.com/file/77379443/2d4868b4/codan_8800_series.html

Nokia : http://www.4shared.com/file/77379609/aa7590c0/nokia_rad.html

alcatel new : http://www.4shared.com/file/77379670/9ce8bea3/alcatel_new.html

Alcatel : http://www.4shared.com/file/77379922/4cd6cf7/alcatel.html

Haris : http://www.4shared.com/file/77380344/493b33c9/harris.html

3. Data Base Engine

http://www.4shared.com/file/77380892/19a30750/bde_setup.html

4. Rain Data Base

ITU : http://www.4shared.com/file/77383079/c540d00/ITU.html

Crane 96 : http://www.4shared.com/file/77383138/1efd92a5/CRANE_96.html

Crane : http://www.4shared.com/file/77383198/e4127a2f/CRANE.html

Canada : http://www.4shared.com/file/77383306/d1ec380f/CANADA.html

5. Tools For Fixed Alogaritm SRTM

http://w18.easy-share.com/1702961012.html

6. Need Pathloss With Coverage and interference tools are enable?? Contact Me On +6285640500028 or anwar_alcatel@yahoo.co.id

Coverage : http://w18.easy-share.com/1702961123.html

Interference : http://w18.easy-share.com/1702961126.html

Both : http://w18.easy-share.com/1702961134.html

Regards

anwar_alcatel@yahoo.co.id

+6285640500028

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028

Pathloss 4.0

December 24, 2008
BAB III
PATHLOSS 4.0
3.1 Menentukan Daerah Hujan
Katika mendesain jaringan komunikasi radio Line of sight hal yang paling utama diperhatikan adalah penambahan pelemahan sinyal dikarenakan hujan. Penambahan pelemahan sinyal ini terjadi pada rugi-rugi jalur transmisi yang menggunakan media udara tak terpandu. Sebelum membahas metode perhitungan rugi-rugi ini diperlukan adanya pembahasan mengenai informasi mengenai masalah hujan tersebut. Ketiaka membahas mengenai hujan, maka satuan hujan ini dinyatakan dalam milimeter perjam. Sebelum implementasi jaringan perancang jaringan harus mampu memprediksi kemungkinan yang akan terjadi pada rugi-rugi saluran bebas tersebut. Rekomendasi pembengian daerah hujan yang sering digunakan adalah dari ITU-R Pn.837-1. Dimana pembagiannya dibagi dalam daerah A hingga Q.


Gambar 3.1 Pembagian Daerah Hujan Menurut ITU-R Pn.837-1

Pada pathloss 4.0 daerah hujan ini mengikuti pembagian menurut ITU-R Pn.837-1 yang dibagi dalam daerah A hinggan Q.


Gambar 3.2 Data base pembagian daerah hujan dari pathloss 4.0
3.2 Topologi geografi (Terrain view)
Pathloss 4.0 mendukung penggunaan file digital untuk menampilkan topologi sesuatu daerah. Beberapa map digital yang dapat digunakan antara lain Gtopo 30 dan SRTM. Selain menggunakan peta digital, pathloss 4.0 juga dapat menerima masukan topologi daerah secara manual yang berdasarkan dari survey lapangan maupun study peta.
Adapun proses untuk memasukkan data terrain adalah sebagai berikut:
1. Pilih menu Configure, pilih sub menu terrain data base.
2. Pilih primary data base, isi pilihan dengan peta digital yang tersedia (dalam hal ini adalah peta SRTM)
3. Tekan tombol setup primary
4. Pilih menu file, sub menu BIL-HDR-BLW
5. Pilih folder dimana file SRTM disimpan. Selanjutnya copy data SRTM tersebut.
Sebelum pathloss dapat menggunakan data tersebut, beberapa parameter harus disetting terlebih dahulu. Parameter yang utama perlu disetting adalah letak geografis dari site A dan site B. Jadi tiap site perlu diketahui nilai nominal koordinat sebelumnya. Sehingga tahapan yang perlu dilakukan adalah :
1. Pada menu summary diperlukan untuk mengisi data letak nominal site dan informasi umum lainnya.
2. Pilih menu terrain data, menu configure sub menu geographic default.
3. Pilih datum WGS 1984, elipsoid wgs 84, dan latitude southern hemisphere, longitude eastarn hemisphere.
4. Pilih grid coordinate system UTM dan second format nearest 0.01 second.
5. Pilih menu configure, sub menu terrain data base.
6. Pilih tipe peta digital SRTM pada primarynya, kemudian klik tombol setup primary. Pilih menu file BIL-HDR-BLW
7. Cari folder dimana peta SRTM disimpan, dan pilih open. Pilih close dan tekan tombol ok.

Gambar 3.3 Menu Utama Pathloss 4.0

Gambar 3.4 Mensetting Geographic default


Gambar 3.5 Setting geographic default


Gambar 3.6 Setting terrain data base

Gambar 3.7 Terrain data base menggunakan SRTM

Adapun cara untuk menampilkan kondisi terrain suatu jalur titik ke titik adalah sebagai berikut:
1. Isi data nominal site A dan site B pada menu summary.
2. Pilih menu terrain data, pilih menu operation, generate profile.
3. Isi data distance increment. Semakin kecil nilai distance increment, semakin detail informasi perubahan terrain view.
4. Tekan tombol generate. Secara otomatis topologi geografi antara kedua titik site akan tampil. Selanjutnya tekan tombol copy.
5. Selanjutnya dapat ditambahkan penghalang baik berupa pohon maupun gedung diantara kedua titik tersebut. Caranya dengan mengklik dua kali pada structure filed dan pilih stuktur yang ingin ditambahkan dengan informasi ketinggian struktur tersebut.


Gambar 3.8 Terrain data yang belum terisi


Gambar 3.9 Memunculkan terrain view


Gambar 3.10 Menentukan Kerapatan Terrain view

Gambar 3.11 Mengcopy Terrain view pada pathloss


Gambar 3.12 Menambahkan Strukture pada terrain

3.13 Terrain dengan struktur
3.3 Menentukan Ketinggian Antena Minimum
Adapun tahapan untuk menentukan ketinggian antena adalah sebagai berikut:
1. Pilih menu Antenna heights.
2. Klik tombol Optimize (tombol bergambar kalkulator) untuk mendapatkan ketinggian optimum antena yang diperlukan.
3. Untuk menentukan sendiri ketinggian antena dapat digunakan menu set microwave antenna heights.
4. Isi data ketinggian antena dan ketinggian tower yang akan digunakan untuk masing-masing site pada kolom yang tersedia.

Gambar 3.14 Mensetting ketinggian antenna

3.4 Menampilkan hasil profile yang telah dibuat
Adapun proses untuk menampilkan profile diantara dua site jalur titik ketitik adalah dengan memilih menu print profile. Secara otomatis akan tergambar kondisi terrain, LOS jarak antara site, elevasi pada site, dan ketinggian antenna yang disetting.


Gambar 3.15 Module Print Profile

3.5 Menggunakan Menu Worksheet
Parameter dari perangkat yang akan digunakan pada jalur titik ke titik akan dimasukkan pada menu worksheet. Dengan kata lain informasi mengenai perangkat yang akan digunakan dimasukkan pada module ini. Oleh karena itu seorang perancang harus memahami mengenai perangkat yang akan dipakai. Pada bagian ini merupakan bagian yang akan menentukan performa link yang kita inginkan. Memberikan parameter yang tepat dan benar akan memberikan performa link yang terbaik. Adapun proses untuk mendapatkan link budget jalur komunikasi radio ini adalah:
1. Menentukan Metode keandalan.
Untuk mensetting metode kaandalan jalur komunikasi ini adalah sebagai berikut:
1. Pilih menu worksheet, selanjutnya pilih menu operation.
2. Pilih sub menu reliability options.
3. Pilih metode keandalan yang akan digunakan, presentasi waktu keandalan, metode perhitungan, tipe radio yang akan dirancang, dan standart region.

Gambar 3.16 Mensetting Keandalan jaringan
2. Memilih data daerah hujan site
Indonesia termasuk daerha hujan golongan P dimana intensitas hujan termauk besar.Untuk menentukan daerah hujan jalur komunikasi radio yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Buka Menu worksheet.
2. Klik Gambar awan
3. Pilih Polarisasi yang digunakan dan juga metode pembagian wilayah daerah hujan yang digunakan.
4. Tekan tombol Load rain file. Pilih golongan daerah hujan yang sesuai dengan daerah dimana site akan didirikan.


Gambar 3.17 Mensetting Polarisasi dan daerah hujan
3. Memberikan tambahan informasi keadaan bumi pada profil topografi
Adapun informasi yang ditambahkan pada bagian ini adalah informasi mengenai ketinggian topografi yang berada didaratan rendah ataukah dataran tinggi, serta memberikan informasi mengenai kelembapan daerah dimana site tersebut dibuat. Tahapan untuk memeberikan informasi ini adalah sebagai berikut:
1. Klik pada gambar terrain.
2. Akan muncul menu path profile data. Pilih menu geoclimatic factor. Pilih klasifikasi terrain yang sesuai dan juga kelembapan daerah yang sesuai.

Gambar 3.18 Data Profil topografi


Gambar 3.19 Mensetting faktor geografi
4. Memilih peralatan radio yang digunakan
Sebagai perancang jaringan radio, tentunya kita perlu mengetahui parameter-parameter radio yang akan kita gunakan. Karena informasi mengenai spesifikasi radio yang akan kita gunakan ini menentukan nilai sinyal yang dapat dipancarkan serta sinyal yang dapat diterima selain daripada informasi mengenai keandalan alat yang akan digunakan tersebut. Adapun cara untuk menambahkan informasi mengenai parameter radio yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
1. Buka menu worksheet.
2. Klik pada simbol TR. Klik pada tombol lookup.
3. Pilih radio yang akan digunakan dan tekan tombol both.

Gambar 3.20 Menentukan radio yang akan digunakan

Gambar 3.21 Memilih radio yang akan digunakan
5. Memilih Antena yang digunakan
Tahapan untuk memasukkan data antena adalah sebagai berikut:
1. Pilih menu worksheet. Klik gambar antena.
2. Klik menu lookup, pilih antena yang akan digunakan.

Gambar 3.22 Informasi antena yang akan digunakan


Gambar 3.23 Memilih antena yang akan digunakan
6. Memilih Frekuensi yang digunakan
Tahapan untuk memasukkan data frekuensi adalah sebagai berikut:
1. Pilih menu worksheet. Klik gambar ch.
2. Klik menu lookup, pilih frekuensi yang akan digunakan.


Gambar 3.24 Frekuensi yang digunakan

Gambar 3.25 Memilih frekuensi yang akan digunakan
7. Menampilkan hasil perhitungan
Setelah semua parameter kita isi, maka tahapan selanjutnya adalah menampilkan hasil perhitungan yang akan diimplementasikan pada site yang akan dibuat. Adapun tahap untuk menampilkan informasi lengkap mengenai hasil perhitungan ini adalah sebagai berikut:
1. Buka menu worksheet, klik menu report, pilih menu fullreport.
2. Selanjutnya akan ditambilkan secara penuh hasil perhitungan software tersebut.

Gambar 3.26 Full report

Note : Need Pathloss 4.0?? Contact me On +6285640500028 (anwar_alcatel@yahoo.co.id)

Pathloss 4.0 Pathloss Pathloss 40 Plw 4.0 plw 40 pathloss 4 pathloss path loss 40 path loss 4.0 pathloss 4.0 full version pathloss full crack pathloss coverage pathloss interference

Note : Need Pathloss 4.0?? Pathloss 4.0 Full Version?? Pathloss with coverage?? pathloss 4.0 with interference?? Pathloss 4.0 with background network?? Path loss 4.0??TEms 6 or 8?? Global Mapper 10?? Planet 4.5?? Mentum 6?? Contact me on anwar_alcatel@yahoo.co.id or +6285640500028


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.